Copyright © Mindsphere
Design by Dzignine
12 October 2012

Programmer ?


Sewaktu masih SMP, aku memutuskan hidupku untuk menjadi seorang Programmer. Sebuah pemikiran pendek dan sangat sederhana menurutku, karna alasan yang ku punya waktu itu tidak terlalu meyakinkan. “Gua mau bikin game yang bisa gua mainin sepanjang waktu hahaha” -___-. Ya, dulu aku adalah seorang gamer. Hobi yang sangat hedonis menurut pandanganku sekarang -_-
Bicara soal pandangan, aku sangat tertarik tentang sesuatu hal yang disebut “sudut pandang”. Sesuatu bisa menjadi baik atau buruk menurut sudut pandang kita masing-masing. Dulu, aku menganggap bermain game online adalah hal yang sangat menyenangkan, yang dapat menenangkan hatiku dari berbagai problema nilai di sekolah. Karena, tidak akan ada rasa kepedulian ketika kita bermain game online, bahkan panggilan adzan sekalipun -_-. Duh, malu rasanya jika mengingat kembali betapa hedonisnya aku dulu. Nah, pendapatku barusan tentang betapa hedonisnya aku dulu pun termasuk sudut pandang, tentu dari sudut yang berbeda. Dan perbedaan sudut pandang inilah, yang membuat sesuatu yang disebut “sudut pandang” ini, menjadi enak untuk diperbincangkan.
Ketika seseorang ditanya pendapatnya tentang seorang programmer, tentu akan ada banyak pendapat yang sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing. Misal, menurut si A, programmer adalah seorang yang bla bla bla. Menurut si B, programmer adalah seorang yang bleh bleh bleh. Maka, karena sudut pandang yang berbeda-beda itulah yang membuatku lebih tertarik lagi untuk menjadi programmer. Dan ternyata banyak sekali pelajaran yang ku dapat dalam perjalanan panjangku menjadi programmer :)
 
-->
See ? Got what I mean ? haha, banyak orang yang bilang kalo jadi programmer itu susah, ngabisin banyak waktu, ngoding mulu depan kompi. Dan kerjaannya ga jauh sama yang namanya kafein, angka-angka, semicolon. Bahkan sampai ada istilah “I am Programmer, I have no life”. But, that’s an innocent people who judge programmer by their point of views. Because one day, proudly I am gonna say with my big smile “I am Programmer, and I have a wonderful life! Cause I have Allah, and Islam :)

Read More..

Because Action is an Important Thing!


Rabu, 10 Oktober 2012.

Pukul enam sore lewat sepuluh menit, hujan membuat teduh fikiranku. Sambil memperhatikan bagaimana rintik hujan membasahi jalanan sekitar Babakan Raya, fikiranku menjelajah tinggi ke awan. Terbayang lagi memori tadi pagi, dimana pertama kali mulutku mengeluarkan kata-kata indah di depan tembok bertuliskan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Tempat bersejarah bagi pertanian Indonesia itu menjadi saksi, bagaimana aku beserta mahasiswa TPB IPB lainnya, yang notabene-nya adalah mahasiswa baru yang awam, yang masih belum berani memberi kontribusi untuk ummat karna alasan "masih cupu", kini dengan semangat yang berkobar, orasi di depan mahasiswa senior dan para pengguna jalan di depan Faperta tentang penghinaan kaum kafir terhadap Rasulullah SAW. Aku dan mahasiswa baru TPB IPB melucuti kegelisahannya selama ini, terhadap penghinaan kaum kafir terhadap Nabi yang dilakukan tidak hanya sekali.
Dengan almamater yang menunjukkan bahwa aku mahasiswa IPB, dengan lantang aku tunjukkan bahwa kesadaran untuk membela martabat Nabi SAW adalah suatu kewajiban. Hukuman dan sanksi bagi yang menghinanya adalah hukuman mati. Aku sungguh malu kepada para sahabat, jika di surga nanti aku bertemu dengan mereka dan mereka menanyakan mengapa aku diam saja ketika Nabi Muhammad SAW dihina. Karena aku yakin para sahabat, terlebih Umar Ibn Khattab, akan siap sedia menghunuskan pedangnya bagi siapa saja yang menghina Rasulullah. Bahkan aku pasti akan lebih malu lagi, jika di yaumul hisab nanti, Allah meminta pertanggungjawabanku mengapa aku diam saja ketika Rasulullah dihina. Padahal Allah beserta malaikat-Nya senantiasa bershalawat atas Nabi. Maka, agar aku tidak merasa malu kepada Allah dan para sahabat, aku bergerak untuk setidaknya menyadarkan mahasiswa dan warga IPB, bahwa tindakan seorang muslim terhadap penghinaan kepada Rasulullah adalah membelanya, bahkan menghukum mati orang yang menghinanya. Analoginya, jika orang tua kita diludahi oleh seseorang, maka apakah kita akan diam saja? Tentu tidak, kita akan pukul orang yang meludahi orang tua kita, sampai dia meminta maaf dan jera. Apalagi kasusnya terhadap orang yang menghina Nabi. Jika kita diam saja, sungguh betapa lemahnya iman kita. Dan tidak ada surga bagi orang yang lemah imannya.
Alhamdulillah, dengan pertolongan dan kasih sayang Allah, aksi yang kulakukan bersama mahasiswa TPB IPB yang lain berjalan sangat lancar. Tidak ada pengguna jalan yang merasa terganggu karena adanya aksi ini. Karena kami sadar betul, menyampaikan ekspresi benci tidak perlu dengan aksi dengan bakar ban, atau merusak fasilitas lainnya. Karena dakwah yang kami lakukan ini dengan pemikiran, bukan anarkis.
Tapi aku sesungguhnya masih belum puas. Setelah berorasi, aku sadar betul betapa lama aku tertidur selama ini. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hatiku, yang masih belum tersampaikan ketika orasi. Ada sesuatu yang aneh dariku, yang membuatku tidak selepas biasanya. Maka dari itu, ini bukanlah menjadi orasiku yang terakhir. Aku berjanji akan terus berkontribusi dalam membela islam dan kepentingan ummat. Semoga Allah mengistiqomahkan aku, dan seluruh teman-temanku. Karena hanya Dia-lah, Zat Yang Maha Tinggi, Yang Maha Membolak-balikkan hati.
Read More..
10 October 2012

Siapa Gerangan ...?

Masih teringat betul di memori otakku, bagaimana kamu kebingungan mencari kawan di sekitar trotoar depan gedung Fakultas Pertanian dan FMIPA tadi pagi. Tapi hujan sore ini betul-betul mengacaukan fikiranku. Taukah kamu? Bahkan aku pun tak tau, mengapa hatiku bisa menghangat. Yang aku tau, tak ada api di senyummu. Siapa kamu?

Read More..
03 October 2012

Makna Sebuah Titipan

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
 bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
 bahwa mobilku hanya titipan Nya,
 bahwa rumahku hanya titipan Nya,
 bahwa hartaku hanya titipan Nya,
 bahwa putraku hanya titipan… Nya,


tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
 Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
 Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
 Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
 Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?


Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
 kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
 kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.


Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
 aku ingin lebih banyak harta,
 ingin lebih banyak mobil,
 lebih banyak rumah,
 lebih banyak popularitas,
 dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,


Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
 Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.


Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,


Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”


[WS Rendra]
Read More..

EVERYTHING IS CHANGING

Sebab akan ada PERUBAHAN BARU untuk SEGALA ASPEK KEHIDUPAN kita. dan PERUBAHAN BARU itu berawal DARI SINI.

Read More..